Wah, Sosmed Penyebab Perceraian, Yuk Lebih Bijak Lagi Menggunakan

Diposkan oleh On 9:49:00 PM

-- --


Tahukah kita semua, kalau kota-kota di Australia mengambil keputusan jam malam yaitu Pkl. 17.00? Ya, jadi semuanya toko serta kantor harusnya bubar jalan mulai sejak jam lima sore. Di kota besar, memanglah juga akan senantiasa ada restoran atau klub yang buka sampai larut malam, tetapi pastinya untuk tidak pada kebanyakan orang.

Umumnya keluarga disana, bisa nikmati makan serta bermain-main atau mengobrol saat sebelum tidur.

Jika dibandingkan kota-kota besar di Indonesia, kelihatannya tidak miliki kebijakan demikian. Adalah hal lumrah bila kita lihat anak-anak masih tetap berkeliaran di pusat perbelanjaan sampai malam. Serta demikian banyak pekerja yang menggunakan waktu saat di kafe, sambil menanti macet.

Demikian halnya pasangan suami istri, yang mempunyai aktivitas masing-masing. Hadirnya gadget juga, seperti menyempurnakan kerenggangan yang berlangsung karna jarangnya menggunakan waktu bersama-sama.

Memanglah baik dulu atau saat ini, membina pernikahan bukan perkara gampang. Masing-masing dengan persoalannya sendiri, walau problem keluarga, orang ke-3, uang, sampai pekerjaan yang umumnya jadi biang keladi. Tetapi saat ini, tantangan yang dihadapi pasangan suami-istri semakin kompleks.

Terkecuali beberapa hal barusan, beberapa hal baru yang dapat menggoyahkan suatu pernikahan. Sosial media, pola hidup, dan siaran media massa seperti 'pupuk' yang menyuburkan ketidakharmonisan rumah tangga.

Beginilah bentuk masa digital, waktu kebanyakan orang terhubung lewat gadget. Reservasi restoran untuk dinner dengan pasangan, cukup lewat aplikasi. Menghadiahi bunga untuk istri tinggal klik situs florist, kurir lekas datang kirim bunga ke kantor istri. Hal semacam ini memanglah praktis, serta anti repot, tetapi juga tidak ada koneksi fisik. Telah pergi mesti lebih pagi, pulang mesti lebih malam, ditambah semua suatu hal terhubung dengan digital semata.

"Tidak bisa disangkal, perkembangan tehnologi malah mendekatkan mereka yang jauh serta menghindari yang dekat" tutur Devie Rachmawati, Pengamat Sosial serta Pengajar Komunikasi Vokasi Kampus Indonesia.

Godaan selingkuh di masa saat ini tambah lebih gampang dibanding sebagian dekade lalu, karna perkembangan tehnologi komunikasi. Saat ini, buka saja situs sosial media, iseng-iseng bercakap dengan rekan lama, nyatanya nyambung serta berlanjut. Berikut yang membuka celah terjadinya perselingkuhan.  

Perselingkuhan sendiri, biasanya bermula dari keperluan dirumah yg tidak tercukupi oleh pasangan. Tak tahu keperluan menceritakan mengenai masalah keseharian, keperluan untuk di perhatikan, disayangi, serta yang lain. Karna tidak tercukupi, mereka mencarinya diluar. Bila persoalan ini tidak lekas dikerjakan, rumah tangga juga akan bubar, ada atau tidaknya tehnologi.

Devie mencontohkan, penelitian di sebagian negara mengatakan, kesibukan seorang di sosial media digunakan jadi bukti dalam sidang perceraian. Satu diantaranya di Italia. Menurut The Italian Association of Matrimonial yang ditulis independent.co.uk, dalam 40% tuntutan perceraian, pembicaraan seorang lewat WhatsApp jadikan bukti ketidakjujuran serta perselingkuhan.

Ketua asosiasi itu, Gian Ettore Gassani, menyebutkan," Sosial media mendorong orang Italia lebih gampang berselingkuh, lewat SMS, Facebook, serta WhatsApp, mereka bertukar foto serta kalimat mesra, " tuturnya. Hal semacam ini dibenarkan oleh Devie. 

Bahkan juga menurut Devie, sosial media buat orang bisa membina hubungan atau berselingkuh dengan 4-5 orang sekalian. Tetapi, Devie menilainya sosial media bukanlah penyebabnya perceraian. 

"Sosial media cuma jadi katalis. Penyebabnya sebenarnya yaitu kekeringan hubungan pada pasangan itu, " katanya.

Di Indonesia, data Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) mengatakan, angka perceraian di Indonesia, dari 2 juta pasangan menikah, 15%-nya bercerai.

"Nyatanya, yang memicu perceraian di posisi pertama bukanlah hanya problem ekonomi, tetapi ketidakharmonisan. Ini karna tidak ada bonding emosional dan koneksi fisik antarpasangan," terang Devie.

Contoh satu diantara pemicunya, menurut Devie, dalam konteks kota besar yaitu kegagalan pemerintah membuat sistem transportasi masal yang ideal. Ini buat anggota keluarga saat ini mesti pergi lebih pagi serta pulang lebih malam.

Begitu hubungan dengan pasangan semakin berjarak, serta saat yang di habiskan dengan beberapa orang diluar tempat tinggal semakin banyak dibanding pasangannya sendiri.
Emotional bonding malah dengan orang yang lain. Setibanya dirumah, suami-istri telah capek. "Ini buat mereka terisolasi dirumah sendiri, sampai menyebabkan ketidaknyamanan yang menyebabkan perceraian" ungkap Devie.

Sayangnya, Anda tidak dapat menyalahkan siapa juga, baik sosial media, ataupun kebijakan pemerintah. Sebab pernikahan ini punya Anda serta pasangan. Bila telah mengerti problem paling utama dari kerenggangan, tidakkah semakin lebih baik bila kita memakai gadget dengan lebih bijak? Lantas mencari langkah supaya, Anda sekeluarga bisa tetaplah menggunakan waktu semakin banyak, bersama.

Sumber : Kaluarga.com




Next
« Prev Post
Previous
Next Post »